Jakarta-Samarinda #4
Justitia,
Aku tahu aku telat membalas suratmu. Dan aku tahu kamu berhari-hari manyun menunggu tukang pos membawa balasanku. Biar aku jelaskan masalahnya. Tepat sehari sebelum suratmu diantar ke mejaku, ada tugas mendadak ke luar kota. Aku sudah menduga sebelumnya, cepat atau lambat balasanmu segera datang. Namun ini di luar kuasaku. Baru semalam aku datang, dan kudapati suratmu kesepian di atas meja kerjaku. Maaf, sudah membuatmu menunggu.
Dasar wanita.
Kamu memang bawel, tapi tak apa, aku malah senang, serasa ada yang memperhatikan.
Hati-hati hujan.
Aku tahu benar kalau kau sedikit saja kehujanan, pasti akhirnya demam. Jikalau masih lebat jangan nekat. Tunggu sampai reda.
Haha. Jangan diingatkan lagi kejadian malam itu. Sumpah, aku sampai tidak bisa tidur di malam sebelumnya, mengumpulkan keberanian mengutarakan itu. :malu:
Sebenarnya banyak juga yang ingin aku ceritakan. Kangen suaramu. ![]()
Biar kusimpan dulu saja, nanti cerita kita melimpah ruah. Aku sempat khawatir, bagaimana jika suatu hari kita kehabisan bahan cerita?
Ah, sudahlah tak usah terlalu dipikirkan. Kamu selalu punya cerita, dan aku rindu mendengarnya.
Sampai di sini, kamu masih marah?
Ayolah senyum, kamu jelek kalau manyun. :p
Baiklah, biar marahnya reda, aku kirimkan sesuatu, semoga surat ini tepat datang di hari ulang tahunmu, dan semoga kamu suka walau bukan apa-apa.
Selamat ulang tahun Juti.
Jadilah wanita yang tangguh dan mandiri.
Samarinda, 30 November 2011
Tertanda,
Aku.
Ps: selamat Desember, Desemberku, Desembermu, Desember kita.
#30HariMenulisSuratCinta
Menelusuri Jejak Kata
Dear Rahne Putri,
Awalnya aku merasa aneh kenapa aku mengirimkan surat cinta kepada kamu yang juga seorang wanita. Namun cinta itu luas bukan? Jadi, aku rasa, tidak salah jika aku mencintaimu karena otakmu bisa merangkai aksara yang di luar duga dan menyuruh jemarimu menari serupa kuas melukis kata-kata di atas kanvas.
Dulu linikalaku begitu sepi, sesekali aku meninggalkan jejak lantas pergi. Namun semenjak aku mengetahui ada linikalamu lewat temanku aku tidak segan lagi untuk memencet tombol 'follow'. Aku lupa tepatnya kapan, namun yang kuingat waktu itu di dunia maya seratus empat puluh kata ini sedang ramai memetwit tentang foto yang sebagian orang bisa melihat penampakan dan sebagiannya tidak. Kamu pasti ingat itu , walau tidak ingat kapan tepatnya.
Menelusuri jejak-jejak kata yang kamu tinggal, membuatku jatuh cinta. Lalu aku berjalan-jalan di tumblr sadgenic, kotak kata-kata sarat makna. Kata orang, ada dua kemungkinan orang bisa membuat kata-kata sedalam itu, pertama kalau tidak sedang jatuh cinta maka dia sedang patah hati. Tapi mungkin itu hanya teori, tidak berlaku untukmu yang sepertinya memang dirancang Tuhan untuk menyihir orang-orang dengan kata-katamu. Terkadang aku heran, kamu masih makan nasi kan? haha. Kukira kamu adalah pemakan kamus hingga kata-kata yang kamu rangkai begitu menghunus.
Sebenarnya surat yang kutulis sebelumnya adalah surat yang bersambung. Namun khusus hari selasa ini, pos cinta menentukan tema, dan temanya adalah menulis surat untuk selebtwit. Ada alasan khusus kenapa dari sekian banyaknya selebtwit yang berkicau di linikalaku sekarang, yang aku pilih adalah dirimu. Yaitu selain aku mencintai kata-katamu, sebenarnya awal aku mengikuti selebtwit bermula dari aku mengikutimu. Seperti jerat lingkaran yang mengharuskan aku juga mengikuti kicauan teman-temanmu yang membuat aku membuka linikala lebih dari tiga kali setiap hari.
Apa kabar?
Aku selalu bertanya-tanya, kenapa kamu masih bertahan di dalam kesendirian? Maksudku kenapa kamu masih bertahan dengan predikat jomblo, yang membuat teman-temanmu nyinyir tidak karuan. Bukankah terkadang kesendirian itu sangat amat mengerikan? Ah, itu bukan urusanku, namun aku rasa bukan karena tidak ada yang mencintaimu, aku yakin banyak di luar sana lelaki yang menjadi kelu saat bertemu denganmu, banyak pengaggum rahasia yang menunggu hatimu terbuka untuknya. Tapi pasti ada alasan lain yang membuatmu tetap tegar bertahan sampai sekarang.
Cukup sekian Rahne,
Ah tunggu, bagaimana aku harus memanggilmu? kakak? atau hanya Rahne?
Sudahlah, itu tak terlalu penting. Terimakasih sudah membuat linikalaku berwarna. Tuhan terlalu baik, mempertemukan aku denganmu walau hanya di dunia maya seratus empat puluh kata. Walaupun ini sepihak, aku tahu kamu namun mungkin kamu belum tahu siapa aku yang terselip di antara dua puluh dua ribu followermu. Tetaplah jemari itu menari, karena itu anugerah Tuhan untuk menghibur orang-orang, salah satunya aku. Dan tetaplah bernyanyi, karena ada beberapa orang yang seketika tenang ketika mendengar suaramu berdendang.
Maaf sudah terlalu lancang mengirimkan surat ini untukmu, terbaca olehmu saja aku sudah senang bukan kepalang.
Hati-hati di hari selasa, semoga harimu menyenangkan.
salam kenal,
Ades Justitia Mustofa
#30HariMenulisSuratCinta
Jakarta-Samarinda #3
Teruntuk,
kamu yang menunda-nunda membaca suratku.
Aku baru saja pulang kantor, selepas isya tadi dan basah kuyup kehujanan. Banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Sekarang aku akan memulai membalas suratmu ditemani jaket hijau pemberianmu dan secangkir coklat panas yang masih mengepul harum. Kamu mau? :p
Kamu tahu apa yang kulakukan setiap siang ketika ada tukang pos berhenti di depan kantorku? Aku berlari ke arahnya dan bertanya, "Ada, surat untukku?" berkali-kali sampai suratmu benar-benar datang hari ini. Benar kan, permainan ini sedikit membuatku tidak waras. Tapi tenang saja, hanya sedikit. haha. Permainan ini ternyata asyik juga. Deg-degkannya lebih terasa, walaupun rindu semakin terpupuk, semakin menumpuk.
Berapa ratus kali kubilang untuk membeli payung?
Apa perlu kupaketkan surat ini bersama payung? Dasar bandel.
Musim penghujan tak hanya datang di sana. Tetapi di sini pun juga. Malah tak hanya hujan, ditambah angin yang merajuk merobohkan pohon-pohon di pinggir jalan. Payungku saja berkali-kali terbang dan aku basah kuyup kehujanan.
Kamu tahu apa yang aku ingat ketika melihat titik-titik air hujan menggantung di ujung-ujung payung? Aku ingat waktu malam-malam hujan dan kamu nekat mengajakku makan. Kacamatamu sampai basah penuh air hujan. Waktu itu menunya adalah nasi goreng ampela untukku, nasi goreng petai untukmu dan teh manis panas yang kita pesan di pedagang kaki lima ujung gang. Diiringi suara rintik yang berisik, dan ceritamu yang selalu menarik. Namun yang paling terekam adalah saat kamu mengantarku pulang dan mengutarakan perasaaan. Dasar manusia penuh kejutan.
Haha.
Mulai saat itu aku tidak lagi membenci hujan, karena hujan pernah mendekatkan kita sedekat itu.
Sudah larut ternyata. Perasaan surat ini baru kumulai beberapa menit yang lalu. Ternyata kamu tidak hanya menyita hatiku namun juga menyita waktuku untuk sekadar menulis surat balasan untukmu.
Kusudahi balasan suratku ini, sebenarnya aku ingin menelepon dan bercerita tentang apa saja denganmu. Tentang sejarah, tentang geografi, tentang fotografi, tentang politik dan apapun seperti biasanya. Namun cukuplah kusimpan sampai permainan ini berhenti.
Jangan lupa makan walau banyak pekerjaan, pakailah jaket saat musim penghujan, jangan tidur terlalu larut, istirahat yang cukup.
Semoga Tuhan selalu melindungimu.
Jakarta, 20 November 2011
Tertanda
Aku yang beberapa hari ini menjadi galau karenamu.
p.s: Maaf jika aku bawel, jika bukan karena peduli, maka aku tidak akan seperti ini.
#30HariMenulisSuratCinta
Jakarta-Samarinda #2
Dear, Juti
Suratmu sudah sampai tepat dua puluh empat jam yang lalu waktu aku sedang berkutat dengan berkas-berkas menumpuk di mejaku. Tidak lantas kubuka, aku diamkan saja. Hanya aku pajang di samping layar pc-ku sampai aku menyelesaikan pekerjaanku. Sesekali kulirik dan aku jadi bersemangat karena itu.
Sehat de?
Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja. Hanya saja sering kehujanan karena hujan datangnya semena-mena, tak pernah tahu waktu.
Kangen?
Ga usah ditanya lagi, jawabannya sama, aku juga.
Enak aja, permainan ini ga boleh berhenti sampai tiga bulan ke depan. Jangan terlalu berprasangka buruk, kita akan baik-baik saja. Semua ini akan melatih kesabaran, dan juga membuat kita lebih menghargai satu sama lain. Jadi jangan gila ya, nanti kalau kamu gila, aku gimana? *puk puk
Benar katamu, nulis surat ini lebih susah daripada mengetik sms. Maaf kalau tulisanku tak rapi, jangan pusing membacanya. Haha.
Balasanku pun ga romantis. Aku bukan orang yang romantis. Mencintaimu tak sekadar gombal, lagian aku tak jago ngegombal.
Sudah dulu ya, jaga diri baik-baik, jangan telat makan dan yang pasti jaga hati.
Samarinda, 17 November 2011
dengan menahan rasa lapar,
aku yang ingin segera pulang, dan bertemu denganmu.
#30HariMenulisSuratCinta
Jakarta-Samarinda #1
Dear kamu,
Sampai usia duapuluh tiga, bisa dihitung dengan jari berapakali aku menulis surat cinta. Namun, setelah aku mengenalmu, mungkin tak cukup satu lembar, dua lembar surat yang ingin kubuat. Terlalu banyak hal yang ingin aku ungkapkan, tak cukup sesekali, atau duakali. Kalau bisa aku ingin mengungkapkan berkali-kali.
Haish, pembukaan yang sok manis. Haha, jika terus-terusan seperti itu, dipastikan kau akan malas membacanya.
Kamu apa kabar?
Jadi begini ya rasanya kembali ke jaman dahulu ketika membeli handphone tak semudah membalikkan telapan tangan, ketika sinyal masih timbul tenggelam, dan pulsa internet yang tidak semurah membeli kacang.
Semenjak seminggu lalu kita memutuskan untuk bermain sebuah permainan yang tidak biasa. Yaitu kita tak melulu bergantung pada teknologi super canggih yang meringkas jarak Samarinda- Jakarta sedekat handphone yang menempel di pipi. Teknologi yang bisa dalam hitungan detik mengantarkan apa itu yang disebut rindu, pun hitungan detik pula ada jawaban darimu.
Kita mengganti itu semua dengan: surat.
Aku grogi menulis surat cinta, sumpah, ini tak semudah mengetik sms, atau meng-update status. Ini lebih rumit. Salut kepada orang-orang jaman dahulu yang sanggup bertahan walaupun bertukar kabar dengan sepucuk surat, yang bahkan ada yang tak tersampaikan ke alamat. Tapi kita harus mencoba, menguji masing-masing kesabaran kita.:)
Susah merangkai kata-kata. Cukuplah surat pertama ini kutulis, aku tidak mau berpanjang lebar hanya untuk menyampaikan inti permasalahan: aku kangen tauk!
Pokoknya jangan sampai permainan mengganti handphone dengan surat cinta ini membuatku gila, jikalau ternyata kangen yang kutulis telat diantarkan pak pos, dan tidak ada balasan darimu.
By the way, kok suratku ga ada romantis-romantisnya ya? Ah sudahlah, bukankah sudah romantis, sedari tadi menyobek puluhan kertas demi tulisan rapi untukmu? Dan bukankah romantis kalau sampe jam satu dini hari begini aku masih berkutat dengan surat yang khusus kutulis untukmu?
Hihi.
Sempatkan membalas, di sela-sela sibukmu, agar surat ini tak terlalu bersedih diabaikan dan agar rinduku tidak terlalu kesepian.
Jakarta, 13 November 2011
Dengan penuh cinta,
Aku yang selalu menunggumu pulang.
#30harimenulissuratcinta